Fakta tentang Riba|Setiap Muslim Harus Faham

“SEANDAINYA SAYA MATI BESOK PAGI.. Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan (dunia) yakni KEMATIAN”
(HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi)
 “Sudah kerja keras tapi hasil kecil? Awas efek RIBA!!!”
 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Holaa sudara-saudari ane semuslim yang InsyaAllah selalu dirahmati dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Kalian pasti kangen kan sama celotehan ane di blog ini, karena cukup lumayan lama ane menghilang dari peradaban.. *ups hehee… Alhamdulillah ane muncul kembali dan pada blog kali ini ane akan membuat artikel mengenai Riba. Pasti kalian tidak asing lagi kan yaa sama satu kata itu, yaa memang jelas Riba sering kali menghantui kehidupan sehari-hari seseorang terutama dalam hal jual-beli dan pinjam-meminjam. Dan yang paling sering kita dengar yaitu riba dalam sebuah bank.
Yaa sudah lah, ane tidak akan celoteh panjang lebar langsung saja ane akan paparkan mengenai sejarah Riba, jenis-jenis Riba, bahaya dari Riba, dan bagaimana solusi untuk dapat keluar dari perbuatan Riba.
Sebelum masuk dalam pembahasan ke sejarah Riba, ane ingin bertanya apa sih sebenarnya pengertian Riba? Hmm… Yaa kata Riba sendiri berasal dari bahasa Arab, yang secara etimologi berarti al-ziyadah (tambahan) atau al-nama (tumbuh). Pertambahan di sini bisa disebabkan oleh faktor intern atau ekstern. Dalam pengertian lain, secara linguistik, riba juga berarti tumbuh dan membesar.
Adapun menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil. Dan menurut istilah, para ulama’ memberi pengertian:
  1. Riba adalah suatu tambahan yang diharamkan di dalam urusan pinjam-meminjam. (A. Hassan)
  2. Riba adalah kelebihan dari jumlah uang yang dipinjamkan. (Syabirin Harahap)
  3. Riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam-meminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam Islam. (Shaleh ibn Fauzan)
  4. Prinsip utama dalam riba adalah penambahan, yaitu penambahan atas harta pokok tanpa adanya transaksi bisnis riil. (jumhur ulama)
  5. Riba jahiliyyah adalah seseorang yang menjual barangnya secara tempo hingga waktu tertentu. Apabila telah datang saat pembayaran dan pembeli tidak mampu membayar, ia memberikan bayaran tambahan atas penangguhan. (Qatadah)
  6. Riba adalah semua tambahan yang tidak disertai dengan adanya pertukaran kompensasi. (Ibnul Araby)
  7. Riba adalah tambahan yang dikenakan didalam muamalah uang maupun makanan, baik dalam kadar maupun waktunya. (Imam As-Suyuthy)
  8. Riba adalah tambahan yang tidak disertai kompensasi yang disyaratkan didalam jual beli. (Imam Sarhasy)
Ada beberapa lafadz yang berhubungan dengan riba:
Riba (riba dayn) adalah menambahkan beban kepada pihak yang berhutang (bunga, fasilitas, denda, sita).
Riba (riba ba’i) adalah menambahkan takaran saat melakukan tukar-menukar 6 komoditi Riba (emas, perak, gandum, barley, kurma, dan garam) dengan jenis yang sama, atau tukar-menukar emas dengan perak dan makanan dengan makanan dengan cara tidak tunai (tidak cash, beda waktu dan tempat serah terima).
Referensi Buku Tentang Fiqih Bisnis Islam:
HARTA HARAM MUAMALAT KONTEMPORER – Dr. Erwandi T, MA. ADA APA DENGAN RIBA – Ust Ammi Nur Baits
Dari beberapa penjelasan tentang riba, maka secara garis besarnya menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan atau untung baik dalam kegiatan jual-beli maupun pinjam-meminjam yang prinsipnya bertentangan dengan mualamah dalam Islam.
Mengenai hal ini Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan bathil.”(Q.S.An Nisa: 29).

A. SEJARAH RIBA

  1. Sejarah Perkembangan Riba
Telah lama diamalkan sebelum lahirnya Islam, agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Mengandungi unsur penindasan.
Di Mesir telah diamalkan di zaman pemerintahan Firaun di mana hutang yang tidak dapat dijelaskan, penghutang akan menjadi hamba. Di zaman Arab Jahiliyah, riba diamalkan atas dua sebab:
  1. Mau mengumpul harta dengan sebanyak-banyaknya.
  2. Terikut-ikut dengan orang Yahudi yang mempunyai hubungan rapat dalam perdagangan.
Pendapat ahli falsafah:
  • Aplaton
Uang tidak dapat memperanakkan uang tanpa usaha pemiliknya. Kenyataan ini disokong oleh ahli falsafah Kristian.
  • David Hume
Uang bukanlah barang atau alat yang boleh diperdagangkan tetapi ia hanya sebagai alat perantaraan bagi menjalankan perniagaan.
  • Yahudi dan Kristian
Pada asalnya agama ini tetap mengharamkan riba sebelum ianya dipesongkan.
Dalam Taurat ayat 25 fasal 22 (Sakarul Huruj):
“Apabila kamu memberi hutang kepada anak bangsamu maka jangan engkau menganggap engkau sebagai orang yang memberi hutang. Jangan engkau meminta keuntungan daripada harta engkau.”
Dalam Taurat ayat 35 fasal 25 (Sakarul Awbin)
“Apabila saudara engkau berhajatkan atau berkehendakkan sesuatu, hendaklah engkau beri jangan meminta keuntungan dan mengambil apa-apa manfaat daripadanya.”
Dalam Injil ayat 24 dan 25 fasal 6 (lnjil Luqa)
“Hendaklah kamu membuat kebajikan, berilah hutang, jangan mengharap pulangan yang lebih, itu adalah pahala yang banyak.”
Para Paderi dan Ketua Gereja sependapat bahwa ia merupakan satu pengharaman yang total terhadap perbuatan riba. Ketua Gereja Kristian bermahzab Yaswi (fahama liberal) tetap tegas dalam masalah riba.
  1. Bermulanya Riba
Orang Yahudi yang terkenal dalam sejarah sebagai bangsa yang tidak amanah, penuh dengan penipuan dan penyelewengan. Tidak heran jika mereka membuat tafsiran yang menurut hawa nafsu mereka terhadap kitab Taurat bahwa:
  1. Pengharaman riba itu ialah antara orang-orang Yahudi saja dan tidak haram terhadap umat-umat yang lain.
  2. Manakala orang Kristian pula tidak dapat mempertahankan pengharaman riba selepas kurun pertengahan. Hanya berpuncak dari tindak tanduk raja-raja dan pembesar agama mereka.
Tahun 1662, Raja Lois kc IV telah berhutang secara riba untuk menjelaskan pinjamannya. Tahun 1860, Agama Kristian mula bermuamalat secara riba. Ini adalah ekoran selepas pemberontakan Peranchis pada 12 Oktober 1789. Ketua-ketua agama Kristian mengadakan satu perhimpunan agung dan mengambil keputusan mengharuskan perbuatan riba.
Riba mula dikembangkan ke seluruh dunia. Dengan sumber keuangan yang kukuh dan tipu daya Yahudi, mereka telah dapat memaksa pembesar negara asing untuk menerima sistem riba. Hanya dipelopori oleh Ruthsolet yang mempunyai 5 orang anak, yang giat rnenjalankan kegiatan yang berunsurkan riba ke seluruh dunia. Seorang anaknya diarah ke Jerman, seorang di England, seorang di Perancis, seorang di Itali dan seorang lagi mengelilingi dunia. Mereka membuka bank-bank yang berasaskan riba.
Di dalam A1-Qur’an, proses pengharaman riba dinyatakan dalam 4 peringkat:
  • Peringkat pertama – ayat-ayat nasihat.
Intipati ayat: tidak dapat pahala dari Allah.
“Dan (ketahuilah bahwa) sesuatu pemberian atau tambahan yang kamu berikan supaya bertambah kembangnya dalam pusingan harta manusia maka ia tidak sekali-kali akan kembang di sisi Allah (tidak mendalangkan kebaikan). Dan sebaliknya sesuatu pemberian sedekah yang kamu berikan dengan tujuan mengharapkan keridhaan Allah semata-mata, maka mereka yang melakukannya itulah orang-orang yang beroleh pahala berganda-ganda.”(Surah Ar Ruum ayat 39)
  • Peringkat kedua – ayat-ayat peringatan.
Intipati ayat: menceritakan balasan Allah terhadap orang Yahudi yang memakan riba.
“Orang-orang yang memakan (harta) riba, tidaklah sanggup berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan syaitan. Demikian itu kerana mereka berkata sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Allah menghalalkan jualbeli dan megharamkan riba. Maka siapa yang sudah sampai kepadanya pengajaran Tuhannya (melarang tiba) lantas ia berhenti maka  baginya apa (harta riba) yang sudah diambilnya dan urusannya kembali kepada Allah. Dan siapa yang kembali (memakan riba) maka dialah penghuni neraka. Mereka kekal di sana. Allah rnemusnahkan riba dan menghidup suburkan sedekah (infak).”(Surah Al Baqarah ayat 275-276.)
  • Peringkat ketiga – ayat-ayat pengharaman.
Intipafi ayat: terhadap riba yang melampau tetapi bukan pengharaman total.
“Wahai orang-orang yang beriman. Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda. Takutlah kepada Allah agar kamu menang (dunia dan akhirat).”(Surah A1 Imran ayat 130)
  • Peringkat keempat – ayat-ayat hukum.
Intipati ayat: pengharaman secara total sama ada sedikit atau banyak.
“Hai orang-orang yang beriman, takutlah Allah dan tinggalkan sisa-sisa riba. jika (memang) kamu orang-orang yang beriman. jika kamu tidak mengerjakannya (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu Dan jika kamu bertaubat, maka untukmu pokok harta (yang kamu pinjamkan). Kamu tidak dianiaya dan tidak pula menganiaya. “[1]
3. Riba dalam Kehidupan Ekonomi di Masa Rosul
Islam, agama yang di bawa oleh Muhammad SAW. Di turunkan jazirah Arab, tepatnya di Mekkah sampai Madinah dan sekitarnya, di tandai dengan turunnya A1-Qur’an, sering kali Al-Qur’an turun dengan membawa gambaran kondisi sosial Arab atau kasus tertentu tentang perikehidupan mereka. Karenanya mengenal lebih jauh tentang kondisi Arab di masa sebelum dan ketika turun Al-Qur’au akan membantu orang memahami pesan yang terkandung di dalamnya secara utuh.
Penduduk Arab dapat di kelompokkan menjadi tiga, Nasrani, Yahudi, dan penganut Paganisme, kedua agama yang disebut terdahulu merupakan agama “impor”, sedangkan terakhir di sebut agama pribumi. Beberapa abad sebelum Islam, agama Yahudi dan Nasrani sah tersebar di Arab, bahkan telah sampai di Arab bagian selatan.
Yastrib merupakan kota jalur dagang yang menghubungkan Yaman dengan Syiria, kota ini mempunyai banyak oase. Hasil bumi kurma diperoleh dari sana karena kesuburan tanahnya, ketika di tangan Yahudi, kota Yastrib menjadi pusat pertanian yang maju. Dengan demikian Yastrib merupakan tempat yang cocok.
Sampai dengan abad pertengahan, bangsa Arab dengan Islamnya semakin di kenal orang karena daerahnya kian laman kian meluas, Menurut Syed Amir ‘Ali, suku pembangunan Arab yang arab kuno. Maka tidak heran kalau dalam perkembangan selanjutnya orang-orang Quraisy di kenal sukses dalam dagang, tokoh yang mula mula tampil dalam hal ini adalah Qusay. Mulanya ia hanya menjadi penguasa di Mekkah, tetapi lambat laun ia menguasai Hijaz. Dulu di Arab tidak ada raja, yang berarti tidak ada kepemerintahan tempat rakyat mencari perlindungan dan kedamaian. Namun demikian, nampaknya mereka sadar bahwa kedamaian adalah kebutuhan setiap masyarakat. Kemajuan di bidang perdagangan yang di capai masyarakat Arab pada waktu itu tampaknya tidak terlepas dari peran dagang orang Yahudi, Yahudi membangun ekonomi di Madinah dari nol, tadinya mereka hidup sebagai tuna wisma dan pengungsi. Tetapi berkat kegigihan mereka, akhirnya mereka dapat rnenguasai pertanian dan mengendalikan keuangan dan pasar.
Al-Qur’an menyebutkan, kelak Nabi akan menjumpai orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang mukmin, itulah orang Yahudi. Tampaknya, sikap pragmatis mereka semenjak dahulu hingga datang Islam tetap menonjol, khususnya dalam kegiatan ekonomi. Mereka punya kecenderungan berperilaku ekonomi menyimpang dari rasa keadilan, seperti memakan riba.
Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an dalam surah An Nisa ayat 160 yang artinya:
”Maka karena kezaliman orang-orang yahudi, kami haramkan aras mereka taubat dan karena mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka sudah di larang.”
Perdagangan yang berlangsung di kalangan orang Arab Jahiliyah tidak dapat di katakan primitif, karena sudah menggunakan uang, uang yang beredar bernama dinar dan dirham terbuat dari emas dan perak, dalam membicarakan Riba, uang selalu di kaitkan dengan inflasi, sebagai salah satu indikasi untuk memberi peluang pembedaan riba dengan bunga.
Dalam ilmu ekonomi di kenal dengan uang kartal dan uang giral, uang kartal di cetak dan di keluarkan oleh masing-masing negara, terbuat dari logam ataupun kertas, uang giral berupa rekening koran atau cek, kecuali di negara-negara maju seperti eropa dan amerika, orang lebih memilih uang kartal dari pada uang giral.
Menyangkut inflasi , tampaknya di masa Rasul tidak ada. Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah kenaikan harga-harga pada umumnya. Kenaikan harga untuk satu atau dua jenis barang saja serta tidak menyeret harga barang lain tidak dapat di sebut inflasi. Di sebutkan bahwa pada masa Rasul, perdagangan barter masih ada, menggunakan uang logam. Walau demikian, sifat barter tidak di kenal inflasi. Kalau pun ada penurunan harga atas barang dagangan tertentu ia hanya bersifat musiman. Dari keterengan ini dapat di pahami bahwa di rnasa Rasul tidak ada inflasi.
4. Riwayat-riwayat Tentang Praktek Riba
Akar kata riba adala huruf  Ra’, Ba’, dan huruf ‘illat, menurut bahasa riba berarti Ziyadah (tambah). Pertambahan bisa di sebabkan oleh faktor interen dan faktor eksteren. Dari segi agama, sebenarnya bukan hanya islam yang menggunakan praktek riba. Agama yahudi dan nasrani juga menggunakannya, seperti riwayat yang menunjukkan bahwa untuk membangun tempat suci tidak boleh menggunakan harta yang di peroleh dari kegiatan ekonomi yang menyimpang, seperti upah pelacuran, riba, dan penipuan. Ini berarti ada kesadaran etik dan religius bahwa riba termasuk kegiatan kotor, kesadaran yang mana hasil riba tidak baik di pergunakan untuk rnendekatkan diri kepada Tuhan. Kendati mereka sendiri tahu bahwa riba itu cli larang oleh agatna mereka. Agaknya orang yahudi sadar bahwa praktek riba merupakan senjata untuk melumpuhkan ekonomi 1ain,termasuk islam. Demikian riba masih di lakukan banyak orang di masa lalu tidak terkecuali para sahabat nabi pada permulaan Islam hingga datangnya larangan riba yang di sebutkan tegas di dalam al-Qu’ran, kemudian para sahabat Nabi menghindari riba.
Al-Razi menuturkan bahwa pada zaman Jahiliyyah jika debitor berhutang seratus dirham kemudian tidak memiliki uang untuk membayar hutangnya pada saat yang telah di tentukan, kreditor akan menentukan tambahan atas jumlah pinjaman. Bila permintaan ini di terima, maka kreditor baru bersedia memberi tenggang waktu, seringkali terjadi tambahan,bukan hanya seratus dirham,bahkan sampai dua ratus dirham.
Dari riwayat-riwayat tentang praktek riba itu dapat di catat bahwa sang kreditor semakin kaya dan debitor semakin miskin atas penggunaan riba, karena sang debitor tidak sanggup membayar utang pada saat waktu yang telah disepakati, dan akhirnya membuat kesepakatan lagi, hutang jadi di lipat gandakan.
5. Konsep Riba Dalam Persepekfif Non Muslim
Riba bukan hanya merupakan masalah masyarakat islam, tetapi berbagai kalangan diluar islam pun memandang serius persoalan ini. Karenanya, kajian terhadap masalah riba dapat dirumut mundur hingga lebih dari dua ribu tahun silam. Masalah telah menjadi ubahan bahasan kalangan yahudi, yunani, demikian juga romawi. Kalangan kristen dari masa-kemasa juga mempunyai pandangan tersendiri mengenai riba.
Adapun konsep riba menurut mereka akan disebutkan secara singkat sebagai berikut :
  1. Konsep Riba Dikalangan Yahudi
Konsep tentang larangan riba tersebut dikalangan Yahudi banyak terdapat dalam kitab suci mereka, baik dalam Old Testment (Perjanjian Lama) Maupun undang-undang Talmud. Larangan tersebut sebagi berikut:
  1. Kitab Exodus pasal 22 Ayat 25 menyatakan “Jika Engkau meminjamkan Uang kepada salah seorang dari umatku orang yang Miskin diantara kamu, maka janganlah engkau berlaku sebagai penagih utang terhadap dia: janganlah engkau bebankan bunga uang terhadapnya.”
  2. Kitab Deoteronomy Pasal 23 ayat 36-37 Menyatakan,“ Janganlah kamu membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan, atau apapun yang dapat dibungakan.”
  3. Kitab Levicitus Pasal 25 Ayat 19 Mengatakan, “Jangan lah engkau mengambil uang atau riba darinya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu bisa hidup diantaramu. Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah kau berikan dengan meminta riba”[2]
  1. Konsep Bunga dikalangan Yunani dan Romawi
Konsep atau praktik pengambilan bunga di cela oleh para Ahli Filsafat, dua filosof yunani terkemuka, Yaitu Plato dan Aristoteles, mengecam praktik bunga. Dengan pendapat mereka sebagai berikut: Plato ( 427-347 SM) Dia mengecam sistem bunga berdasarkan dua alasan yang pertama. Bunga mengakibatkan perpecahan dan perasaan tidak puas dalam masyarakat. Kedua: Bunga merupakan alat golongan kaya untuk mengeksploitasi golongan miskin.
Adapun Aristoteles (384-322 SM) Menyatakan keberatannya mengemukakan bahwa filngsi uang adalah sebagi alat tukar atau Medium of exchange. Ditegaskannya bahwa uang bukan alat untuk menghasilkan tambahan melalui bunga. Diapun menyebut bunga sebagai uang yang berasal keberadaannya dari sesuatu yang belum tentu pasti terjadi.
Kalau kita telah mengamati pendapat para tokoh filosof yunani diatas, sekarang kita amati pendapat ahli filsafat romawi yang pendapatnya beralasan yang sama dengan alasan filosof yunani tokoh tersebut adalah. Cato (234-149 SM) Ia berkata pada anaknya agar menjauhi dua perkara yaitu memungut cikai dan mengambil bunga.
  1. Konsep Bunga Dikalangan Kristen
Kitab peljanjian baru tidak menyebutkan permasalahan ini secara jelas. Akan tetapi, sebagaian kalangan kristiani menganggap bahwa ayat yang terdapat dalam Lukas 6:34-35 sebagai Ayat yang mengecam praktik pengambilan bunga.[3] Ayat tersebut menyatakan:
“Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang karena kamu berharap akan menerima sesuatu darinya, Apakah jasamu ? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang berdosa supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak tuhan yang maha tinggi sebab ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.”
St.Basil (329-379) menganggap mereka yang memakan bunga sebagai orang yang tidak berperikemanusiaan. Baginya mengambil bunga adalah Mengambil keuntungan dari orang yang memerlukan, Demikian juga mengumpulkan emas dan kekayaan dari air mata dan kesusahan orang miskin.
St.Gregory Dari Nyssa (335-407) mengutuk praktik bunga karena menurutnya pertolongan melalui pinjaman adalah palsu. Pada awal kontrak seperti membantu, tetapi pada saat menagih dan meminta imbalan bunga bertindak sangat kejam. Dan masih banyak larangan-larangan riba Iainnya didalam kitab injil peljanjian lama tersebut yang tidak bisa disebutkan.
[1]Anwar, Syamsul, Studi Hukum Islam Kontemporer, (Jakarta: RM Books, 2007) hlm.6
[2] Sehacht, Joseph, Pengantar Hukum Islamalih bahasa, (Y ogyakarta: Islamika,2003), hlm. 9
[3] Basyir, Ahmad Azhar, Hukum Adat Bagi Umat Islam, (Yogyakarta Nur cahaya, I983) hlm. 64
http://ozan993.blogspot.co.id/2014/12/sejarah-riba.html (diakses pada Minggu, 4 Maret 2018, pukul 21.52)

B. JENIS-JENIS RIBA

Secara umum, riba dikelompokkan menjadi dua, yaitu riba utang-piutang dan riba jual-beli. Riba utang-piutang terdiri dari riba qardh dan riba jahiliyyah. Sedangkan riba jual-beli terdiri dari riba fadhl dan riba nasi’ah.
  1. Riba qardh adalah suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang. Riba qardh muncul akibat adanya tambahan atas pokok pinjaman yang dipersyaratkan di muka oleh kredit atau shahibul maal kepada pihak yang berhutang (debitur), yang diambil sebagai keuntungan. Misalnya, seseorang yang berhutang sebesar Rp100.000,00 dan diharuskan membayar kembali Rp110.000,00. Maka tambahan Rp10.000,00 tersebut adalah riba qardh.
    Larangan riba ini berdasar firman Allah SWT dalam surah Ar-Rum ayat 39:
    “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)”.
  2. Riba jahiliyyah adalah utang yang dibayar lebih dari pokoknya karena peminjam tidak mampu membayar utangnya pada waktu yang telah ditentukan, disebut juga dengan riba yad. Biasanya jika pemimpin tidak mampu membayar pada waktu yang ditentukan, maka bunganya akan bertambah dan bertambah sejalan dengan waktu tunggakan. Menurut al-Jashshash, riba yang dikenal dan dikerjakan oleh orang Arab dahulu (masa Jahiliyah) adalah utang beberapa dirham atau dinar, ketika pengembalian diberi tambahan sesuai perjanjian ketika utang dimulai.
Menurut golongan Syafi’iyyah, riba yad ialah:
  • Jual beli dengan menunda pengambilan salah satu gantinya atau kedua-duanya tanpa menyebut jangka waktunya (Al Mausu’ah juz 22 hal.57).
Contoh: A membeli bata merah pada B dengan nilai transaksi saat ini secara kontan, namun B menyerahka bata merahnya di kemudian hari. Adanya jeda waktu tersebut dapat menimbulkan gharar (ketidakpastian), karena harga bata merah ketika diserahkan di kemudian hari bisa berbeda dengan harga pada waktu transaksi pembayaran
  • Riba yad adalah jika salah satu dari dua orang melakukan jual beli meninggalkan majelis akad sebelum melakukan serah terima barang (Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj).
Contoh: A membeli beras satu kwintal kepada B setelah A membayar uang pembeliannya kepada B maka B meninggalkan tempat jual beli sebelum dia menyerahkan berasnya kepada A.
Dasar larangan riba kategori ini antara lain firman Allah dalam surah Ali-Imran ayat 130:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda, dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”.
  1. Riba fadhl adalah pertukaran antar barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang ribawi. Contoh:
  • 20 kg beras kualitas bagus, ditukar dengan 30 kg beras kualitas menengah.
  • Menukarkan uang 10 dinar emas dengan uang 15 dinar emas, uang 100 dirham perak ditukarkan dengan uang 150 dirham perak.
Perkataan fadhl berarti kelebihan yang dikenakan dalam pertukaran atau penjualan barang yang sama jenisnya atau bentuknya. Riba kategori ini dilarang berdasar Hadist Nabi diatas, yaitu:
“Dari ‘Abd al-Rahman ibn Bakrah, katanya: Abu Bakrah r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Jangan kalian jual emas dengan emas kecuali yang sama-sama, perak dengan perak kecuali yang sama-sama. Dan jual-belilah emas dan perak atau perak dengan emas sesuai dengan keinginan kalian.” (HR. al-Bukhari)
“Dari Malik ibn Aus, ia mendengar ‘Umar RA dari Nabi Muhammad SAW ia bersabda, “Jual beli gandung dengan gandung adalah riba kecuali sama-sama, tepung dengan tepung adalah riba kecuali sama-sama, dan kurma dengan kurma adalah riba kecuali sama-sama.” (HR. al-Bukhari)
  1. Riba nasi’ah adalah penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba dalam nasi’ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian. Dikatakan nasia’ah karena orang yang berutang dapat dikatakan memaafkan penundaan bayaran utang tersebut dengan ganti rugi tambahan atas modalnya. Menurut Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, riba nasi’ah adalah tambahan atas salah satu barang yang diutang, seperti orang yang berutang sekati kurma di musim dingin dibayar kembali satu setengahnya di musim panas.
  2. Riba yang muncul akibat adanya jual-beli atau pertukaran barang ribawi tidak sejenis yang dilakukan secara utangan (tempo).
Contoh: Tukar menukar dollar dengan rupiah yang penyerahan salah satu atau keduanya di kemudian hari, seperti A menukarkan 100 dolar kepada B dengan nilai Rp1.200.000,00, A menyerahkan uang dolarnya sekarang dan B menyerahkan uang rupiahnya satu bulan kemudian.
  1. Riba yang muncul akibat adanya penambahan nilai transaksi yang diakibatkan oleh perbedaan atau penangguhan waktu transaksi.
  • Contoh: A menjual sepeda motor kepada B seharga Rp10 juta rupiah lunas dalam tiga bulan, karena B tidak bisa melunasi dalam tiga bulan, maka A memberi kelonggaran waktu tiga bulan lagi dengan syarat utangnya menjadi Rp12 juta rupiah.
Larangan riba nasi’ah didasarkan pada Hadist Nabi:
“Dari Abu Sa’id al-Khudzri bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Jangan kalian jual beli emas dengan emas dan uang dengan uang kecuali dengan timbangan dan jenis yang sama.” (HR. Muslim)

C. BAHAYA RIBA

Riba itu hukumnya HARAM. TITIK! Tidak pakai koma. Riba menurut Al-Qur’an, Al-Hadits dan Ijma’ (kesepakatan) para ulama’ hukumnya haram, riba termasuk dosa besar, riba termasuk amalan yang melebur amal-amal kebajikan. Dan Allah SWT dengan jelas telah mengHARAM kan riba dalam firman-Nya:
“Padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.” [Firman Allah SWT dalam QS. Al Baqarah: 275]
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba…” [Firman Allah SWT dalam QS. Ali Imron: 130]
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” [Firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah: 278]
Ingat sobat babi itu hukumnya jelas HARAM! Beranikah kita memakan daging babi walau hanya secuil? Jelas semua umat muslim pasti akan menjawab TIDAK!
Lalu jika RIBA hukumnya juga HARAM… Menurut kalian masih bolehkah kita memakan harta RIBA walau hanya secuil?
Tentulah jawabannya pasti TIDAK. Karena riba merupakan salah satu dari 7 dosa besar yang MEMBINASAKAN. Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya. “Wahai Rasulullah! Apakah itu?” Beliau menjawab, “[1] Syirik kepada Allah, [2] Sihir, [3] Membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan haq, [4] Memakan Riba, [5] Memakan harta anak Yatim, [6] Berpaling dari perang yang berkecambuk, [7] Menuduh zina terhadap wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan yang bersih dari zina”. [HR. Bukhari Muslim].
Jika salah satu kondisi dibawah ini Anda atau Keluarga Anda mengalaminya, bisa jadi dosa riba yang menjadi penyebabnya:
  • Selalu merasa rezeki yang didapatkan tidak cukup atau selalu kurang, padahal jumlah rezeki yang kita terima lebih banyak dari rata-rata orang pada umumnya.
  • Dalam bisnis usaha yang dilakukan selalu mentok atau banyak masalah terjadi, bahkan sering menimbulkan masalah baru, hutang baru dan bahkan berujung kebangkrutan. Hutang baru semakin bertambah dan total hutang semakin menumpuk. Hidup menjadi tidak tenang karena terus dikejar tagihan hutang.
  • Keluarga kurang harmonis, hubungan suami istri kurang mesra, dengan anak-anak terasa jarak, bahkan terkadang anak menjadi susah diatur, bahkan sering terjadi pertengkaran antara suami dengan istri, saling membentak, dan hidup terus-menerus dalam kondisi tertekan.
  • Masalah dalam hidup tidak kunjung mendapat solusi dalam jangka waktu yang cukup lama. Dijauhi dari jodoh dan rezeki, atau belum dikaruniai keturunan, sering sakit-sakitan, dll.
Maka dari itu, dibalik perbuatan Riba menyimpan banyak bahaya besar bagi pelakunya, yaitu:
  1. Dosa dan harta haram menjadikan penghalang terkabulnya doa seseorang.
Rasulullah SAW Bersabda: “Seorang laki-laki yang lusuh lagi kumal karena lama berpergian megangkat kedua tangannya ke langit tinggi-tinggi dan berdoa: Ya Rabbi…Ya Rabbi… Sementara makanannya haram, minumnya haram, pakaiannya haram, dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimana doanya bisa terkabulkan?” [HR. Muslim]
  1. Pelaku Riba ditantang perang melawan ALLAH dan RASULNYA!
Firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah: 279 “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa transaksi riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu!”
Dari firman Allah SWT tersebut menurut kalian siapa yang dapat selamat kalau Allah SWT dan Rasul-Nya sudah mengumumkan peperangan kepadanya?
  1. Orang yang makan riba hartanya rusak atau binasa atau hilang barakahnya sehingga dia tidak bisa bersenang-senang dengan harta itu dan tidak bisa memanfaatkannya sampai ke anak turun sesudahnya.
Allah SWT berfirman: “Allah menghapus (berkahnya) riba dan menyuburkan (mengembangkan) shadaqah-shadaqah”.
  1. Usaha yang dilakukan akan mengalami kekacauan, memiliki banyak masalah, banyak hutang, banyak dusta (ingkar janji), dan menyebabkan kebangkrutan sehingga hidup penuh dalam tekanan hutang.
  2. Kehidupan keluarganya akan berantakan dan tidak bahagia.
  3. Allah SWT juga dapat memberikan hukuman dalam waktu sekejab, yaitu dengan musibah datangnya penyakit atau apapun itu sesuka kehendak Allah SWT kepada siapapun yang berbuat dosa Riba.
  4. Orang yang menghalalkan riba hukumnya kafir.
Karena dia telah mengingkari hukum/sesuatu dari urusan agama yang mau tidak mau setiap muslim secara dilarury wajib mengetahuinya.
Allah SWT berfirman: “Tinggalkan apa-apa yang tersisa dari riba jika kalian orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Baqarah: 278)
Dan setelah Allah menyebutkan riba, Allah berfirman: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Alaah tidak senang kepada tiap-tiap orang kafir yang berdosa”. (QS. Al-Baqarah: 276)
  1. Harta yang ada Ribanya berujung kemiskinan.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Tidak ada seorang pun yang banyak melakukan praktek riba kecuali akhir dari urusannya adalah hartanya menjadi sedikit.” [HR. Ibnu Majah]
  1. Dosa Riba yang paling ringan itu seperti berzina dengan ibu kandung.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Riba itu ada 73 pintu. Yang paling ringan adalah seperti dosa seseorang yang berzina dengan ibu kandung sendiri.” [HR. Al Hakim]. Dosa zina merupakan dosa besar dan menjadi penutup rezeki.
  1. Dosa riba per kurabf lebih Rp60.000,00 itu dosanya seperti berzina sebanyak 36 kali.
Rasulullah Mugammad SAW bersabda: “Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, dosanya lebih besar daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” [HR. Ahmad dan Al Baihaqi]
  1. Pelaku riba saat bangun dari kubur berdirinya seperti orang yang kesurupan setan/gila.
Firman Allah SWT dalam Al Baqarah ayat 275: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukkan setan karena (tekanan) penyakit gila.
  1. Tidak akan diterima sedekah dan infaq seseorang dari hasil perniagaan yang mengandung Riba.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Janganlah membuatmu takjub, seseorang yang memperoleh harta dengan cara yang haram, jika dia infaqkan atau sedekahkan maka tidak diterima, jika ia pertahankan maka tidak diberkahi dan jika ia mati kemudian ia tinggalkan harta itu maka akan jadi bekal dia ke neraka.” [HR Ath Thabrani dan Al Baihaqi]
  1. Pelaku dari perbuatan riba kelak di akhirat nanti ia akan berenang di sungai darah dan dilempari batu ke mulutnya.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Tadi malam aku bermimpi ada dua laki-laki yang mendatangiku, keduanya membawaku ke kota yang disucikan. Kami berangkat sehingga kami mendatangi sungai darah. Di dalam sungai itu ada seorang laki-laki yang berdiri. Dan di pinggir sungai ada seorang laki-laki yang didepannya terdapat batu-batu. Laki-laki yang di sungai itu mendekati, jika dia hendak keluar, laki-laki yang di pinggir sungai itu melemparkan batu ke dalam mulutnya sehingga dia kembali ke tempat semula. Setiap kali laki-laki yang di sungai itu datang hendak kelar, laki-laki yang di pinggir sungai itu kembali melemparkan batu ke dalam mulutnya sehingga dia kembali ke tempat semula. Aku bertanya, “Apa ini?” Dia menjawab, “Orang yang Engkau lihat di dalam sungai itu adalah PEMAKAN RIBA”. [HR. Al Bukhari]
  1. Negeri dari pelaku Riba akan di Adzab Allah SWT.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Jika telah nampak perbuatan zina dan riba di suatu negeri, maka sungguh mereka telah menghalalkan diri mereka sendiri untuk merasakan adzab Allah.” [HR. Al-Hakim dan Ath-Thabarani]
  1. Allah SWT akan memasukkan pelaku riba kedalam neraka dan mereka akan kekal didalamnya. (al-Mabsuth 12/109-110)
Firman Allah SWT dalam QS. Al Baqarah ayat 275: “Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari transaksi riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah.
Orang yang kembali mengulangi (bertransaksi riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

D. SOLUSI KELUAR DARI RIBA

Berikut ini adalah langkah atau pola yang kebanyakan orang dapatkan untuk melepaskan diri dari jerat riba:
  1. Bertaubat dengan sungguh-sungguh.
  2. Berazzam/bercita-cita, dengan memiliki tujuan kita pasti akan termotivasi untuk keluar dari Riba.
  3. Perbaiki Ibadah dengan maksimal.
  4. Perbanyak doa dan dzikir kepada Allah SWT.
  5. Menaikkan pendapatan, dengan mencari pekerjaan yang halal.
  6. Jangan terlalu memikirkan kesenangan semata.
  7. Blacklist diri sendiri menggunakan akad riba bank.
  8. Perbanyak bersedekah.
  9. Syukuri apa yang ada.
  10. Jangan bergaya hidup mewah.
  11. Stop kebiasaan berhutang.
  12. Stop kebiasaan mengkredit.
  13. Jangan takut untuk menolak hal-hal yang berhubungan dengan Riba.
Adapun doa yang digunakan untuk mempermudah urusan huang piutang yang diajarkan Nabi Muhammad SAW:
ALLAHUMA INNI AUDZUBIKA MINAL MA’TSAM WAL MAGHROM
Artinya: “Ya Allah aku berlindung dari dosa dan jeratan hutang”.
Doa yang mendukung juga:
HASBUNALLAH WANI’MAL WAKIL, NI’MAL MAULA WANI’MAN NASIR.
Artinya “Cukup bagiku Allah sebaik-baiknya penolong dan pelindungku”.
Dan pastinya hanya Allah lah yang bisa membantu kita, meskipun itu lewat tangan manusia lainnya. Seperti yang berliau contohkan adalah orang yang selalu berdoa ingin menjadi pengusaha apapun itu, dia meminta kepada Allah dengan sungguh-sungguh, akhirnya dikabulkan lewat jalan temannya yang mempunyai bisnis di kota tempat dia tinggal tapi mau ditinggal tugas diluar kota, dan dia dipasrahin menjaga dan mengelola dengan sistem bagihasil 50:50, MasyaAllah..
http://arifwahyu.com/8-langkah-yang-terbukti-mampu-melepaskan-jeratan-hutang-riba.html (diakses pada Minggu, 4 Maret 2018, pukul 21.54).
“Hidup sederhana tanpa hutang, lebih mendamaikan daripada kelihatan kaya tapi banyak hutang”
Baiklah cukup sekian pemaparan artikel mengenai Riba dari ane, kalau masih ada salah kata atau apapun itu ane mohon maaf. Jangan bosan untuk selalu mengunjungi blog pribadi ane ini, dan jangan lupa ajak teman-teman kalian untuk datang berkunjung dan membaca hehehee.. Sekian dari ane. Terima kasih (:
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s