Sejarah Islam | Setiap Muslim Harus Tau!

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi dan umat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (sehat). Alquran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” [QS. Yusuf/12:111].
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Haii..hai.. sobat yang InsyaAllah selalu dalam lindungan Allah SWT Aamiin.. Kali ini Fidha akan membahas mengenai Sejarah Khalifah dari zaman Khalifah Abu Bakar – Ustmaniyah (Turki) dan Sejarah masuknya Islam ke Indonesia (:
Dapat disimak sampai akhir yaa.. Biar nda bosan bisa kok bacanya sambil ngemil (: tapi jangan pas lagi puasa yaa ntar batal ehehee.. Okey langsung saja ..
Sejarah Khalifah dari Zaman Khalifah Abu Bakar – Utsmaniyah (Turki)
  1. Masa Khalifah Khulafa’ur Rasyiddin
    Khalifah Abu Bakar Al-Shiddiq (Rabiul Awal 11 H – Jumadil Akhir 13 H)
Pada saat nabi wafat, Abu Bakar langsung bergegas pergi kerumah nabi, lalu ia berkutbah dihadapan semua, ‘barang siapa menyembah Muhammad maka sungguh Muhammad telah mati dan barang siapa menyembah Allah maka Allah maha hidup dan takkan pernah mati. Dan Muhammad hanyalah seorang rasul, sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau di bunuh, kamu berbalik kebelakang (murtad)? (Ali Imron :144)”. Umat islam berkumpul di saqifah Banisa ‘idah mendiskusikan mengenai siapa yang pantas menjadi pengganti nabi Muhammad SAW untuk memimpin umat islam. Setelah sedikit perdebatan mereka sepakat membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah.
Masa keemasan Abu Bakar saat berhasil memerangi Perang Riddah yaitu beberapa suku Arab yang berasal dari Hijaz dan Nejed membangkang kepada khalifah baru dan sistem yang ada, beberapa diantaranya menolak membayar zakat walaupun tidak menolak agama Islam secara utuh, beberapa yang lain kembali memeluk agama dan tradisi lamanya yakni penyembahan berhala serta suku-suku tersebut mengklaim bahwa hanya memiliki komitmen dengan Nabi Muhammad SAW dan dengan kematiannya komitmennya tidak berlaku lagi. Abu Bakar As Siddiq juga berperan dalam pelestarian teks-teks tertulis Al Qur’an. Dikatakan bahwa setelah kemenangan yang sangat sulit saat melawan Musailamah dalam perang Riddah, banyak penghafal Al Qur’an yang ikut tewas dalam pertempuran. Abu Bakar As Siddiq meminta Umar bin Khattab untuk mengumpulkan koleksi dari Al Qur’an. Setelah lengkap teks ini, yang dikumpulkan dari para penghafal Al-Quran dan tulisan-tulisan yang terdapat pada media tulis seperti tulang, kulit dan lain sebagainya.
Abu Bakar wafat pada Jumadil Akhir 13 H dan beliau telah melantik Umar ibn Khaththab sebagai penggantinya. Pelajaran yang dapat diambil dari khalifah Abu Bakar yaitu  Abu Bakar dikenal sebagai salah seorang pemberani yang selalu gagah dimedan pertempuran. Beliau memiliki akhlak yang tinggi dan iman yang sempurna, serta mempunyai karakteristik yang lembut dan tegas.
Khalifah Umar Ibn Khaththab (Jumadil Akhir 13 H – Zulhijjah 23 H)
Kala merasa ajalnya sudah dekat Abu Bakar ingin menentukan penggantinya karena khawatir timbul percecokan diantara umat islam. Pikirannya tertuju pada sosok Umar. Setelah berdiskusi mereka sepakat mencalonkan Umar sebagai pengganti Khalifah Abu Bakar. Abu Bakar berkutbah di masjid “wahai manusia Ridho kah kalian dengan orang yang aku tunjuk sebagai penggantiku? Demi Allah aku tidak memutuskan karena menuruti pendapat pribadiku atau karena kekerabatan. Tapi, aku menunjuk Umar Ibn Khaththab penggantiku. Dengarkan dan taatilah perintahnya.” Mereka serentak menjawab “ya kami semua setuju. Kami akan patuh dan taat.” Hari berikutnya Abu Bakar wafat dan dimakamkan di sisi makam Rasulullah. Semua orang pergi menuju masjid dan membaiat Umar ibn Khaththab.
Umar bin Khattab pun segera menggiatkan usaha perluasaan kekuasaan Islam diberbagai wilayah yang lebih luas lagi. Pertempuran demi pertempuran dapat dimenangkan dengan gemilang. Wilayah kekuasaan Islam pun semakin bertambah luas. Dalam pertempuran di Ajnadin tahun 16 H/636 M tentara Romawi dapat dipukul mundur dan selanjutnya beberapa kota di pesisir pantai Syiria juga dapat dikuasai, seperti Jaffa, Gizar, Ramla, Typus Arced an Askolan bahkan Bairut juga dapat ditaklukkan seperti kota kadisi tahun 16 H/636 M, kota jalula tahun 17 H/638 M, kota madian tahun 18 H/639 M, dan kota nahawand tahun 21 H/642 M. Selain mengadakan  perluasan wilayah ke kuasaan islam ke berbagai daerah,khalifah umar bin khattab juga banyak berjasa dalam hal pembuatan undang-undang Negara. Peraturan perundang-undangan yang berisi tentang ke tatanegaraan dan tata pemerintahan, di bentuk pada masa ke khalifahan ini.bentuk pemerintah dibagi menjadi dua,yaitu pemerintah pusat yang dipimpin oleh seorang kalifah dan para pembantunya, dan pemerintah daerah yang dipimpin oleh seorang gubernur dan aparat pemerintah yang ada di daerah. Khalifah umar bin khattab juga membentuk dewan, Negara dan militer. Lembaga ke jaksaan dan Dewan pertimbangan hukum juga di bentuk pada masa ke khalifahannya. Banyak hakim-hakim yang masyhur pada masa itu, diantaranya ali bin abu thalib.
Khalifah Umar wafat pada 644 M selepas dibunuh oleh seorang hamba Majusi Parsi yang bernama Abu Lu’lu’ah atau Pirouz karena menyimpan dendam. Pelajaran yang dapat diambil dari Khalifah Umar yaitu Umar bin Khathab adalah orang yang cerdas, dan sangat tegas. Beliau adalah teladan dalam hal keadilan, tidak membeda-bedakan antara bangsawan dan budak serta mengutamakan kepentingan rakyat.
Khalifah Utsman Ibn Affan (Zulhijjah 23 H – Zulhijjah 35 H)
Sebelum Umar wafat beliau mewasiatkan beberapa nama untuk beliau jadikan pengganti Khalifah. Beliau menyebut nama Ali, Utsman, Zubair, Thalhah, Sa’d dan Abdiurrahmaninm ibn ‘Auf. Beliau mewasiatkan para penggantinya agar memperhatikan orang-orang Arab pedalaman sebaik-baiknya. Setelah Umar di makamkan berkumpulah 6 orang tersebut dan memperoleh 3 calon yaitu Ali, Utsman dan Abdurrahman ibn ‘Auf. Kemudian, Abdurrahman memilih siapa yang terbaik diantaranya. Lalu, Abdurrahman memegang tangan Utsman dan membuat perjanjian seraya berkata, “Angkat tanganmu, Utsman” lalu membaiatnya, disusul Ali dan semua orang.
Masa keemasan Utsman yaitu perluasan Islam pada dua bidang, yaitu menumpas pendurhakaan dan pemberontakan yang terjadi di beberapa negeri yang telah masuk ke bawah kekuasaan Islam di zaman Umar dan melanjutkan perluasan Islam ke daerah-daerah yang sampai di sana telah terhenti pada perluasan Islam di Umar. Beliau juga melakukan perluasan terhadap masjid Nabawi di Madinah dan Masjid al-Haram di Makah. Dan beliau juga yang pertama kali menentukan adzan awal menjelang shalat jumat. Selain melakukan perluasan Masjid, khalifah Utsman juga melakukan kodifikasi al-Quran. Kodifikasi al-Quran ini merupakan lanjutan kerja yang telah dirintis oleh khalifah Abu Bakar, dengan inisiatif Umar ibn Khatab. Pengkodifikasi al-Quran pada masa khalifah Utsman dilakukan karena terjadi perbedaan pendapat tentang bacaan al-Quran (qiraat al-Quran), yang menimbulkan percekcokan antara guru dan muridnya.
Khalifah Utsman ditemukan terbunuh pada 18 Zulhujjah tahun 35 H di mana pembunuhan tersebut adalah tragedi dalam sejarah Islam sekaligus mencerminkan sikap tamak al-qurra sehingga sanggup membunuh seorang khalifah yang sudah terdaya mempertahankan diri karena sudah tua. Pelajaran yang dapat diambil dari Utsman yaitu Utsman bin Affan adalah orang yang selalu menjaga kehormatan serta kesucian dirinya, mulia dan lurus akhlaknya terkenal dengan kecerdasan dan kebenaran pendapatnya. Dengan karakter beliau kemakmuran rakyat dapat tercapai baik jasmani maupun rohani.
Khalifah Ali bin Abi Thalib ( Zulhijjah 35 H – Ramadhan 40 H)
Pembaiatan Ali sebagai khalifah dilakukan setelah kematian Utsman. Ia dibaiat seluruh kaum Muhajirin, Anshor dan semua yang hadir. Pada perang Khaybar, Ali tertinggal dari pasukan Nabi karena penyakit mata. Sore hari sebelum pagi, Nabi bersabda akan memberikan bendera kemenangan oleh seorang lelaki yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Ali tiba-tiba muncul, kemudian Nabi akhirnya memberikan bendera tersebut ke tangan Ali dan Allah memberikan kemenangan kepadanya.
Ali sanggup menerima jawatan khalifah dalam kegoyahan di mana bermulanya titik pertukaran politik negara Islam yang bercelaru apabila beramai pihak yang berebut untuk berkuasa dan menjadi ketua. Beliau juga menghentikan peperangan diantara umat Islam, misalnya Perang Saudara Siffin dengan berujung perundingan serta beliau juga membina markas tentara di Parsi dan Syria.
Pada tahun 611 M Ali meninggal dunia akibat dibunuh oleh kaum khawarij karena mereka tidak suka dengan perubahan yang dilakukan oleh Ali, bahkan menganggap Ali yang berkomplot membunuh Khalifah Utsman. Pelajaran yang dapat diambil dari Ali yaitu Ali bin Abi thalib sangat memperhatikan keadilan dalam ekonomi, dia sangat serius dalam hal perekonomian. Beliau juga memiliki sikap yang kokoh kuat pendirian dalam membela yang hak, paling teliti pemikirannya dan paling taufik untuk mrnerima hukum yang benar serta pendapat yang betul. Dalam masalah keberanian patut dicontoh dan ditiru oleh setiap pemberani, yakni keberanian untuk membela kebenaran dan agama.
  1. Masa Khalifah Umayyah
Sejarah berdirinya Dinasti Umayyah dilatar belakangi oleh oleh terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan. Kemudian diangkatnya Ali bin Abu Thalib sebagai Khalifah. Hal ini menyebabkan dampak negatif untuk para Muslimin. Sebagian kaum Muslimin tidak menyetujui kepemimpinan Ali bin Abu Thalib. Terutama Muawiyah yang sangat tidak menyetujui kepemimpinan Ali bin Abu Thalib. Mu’awiyah memanfaatkan semua mantan pejabat pada masa Usman bin Affan dan masyarakat untuk tidak menyetujui Ali bin Abu Thalib. Mu’awiyah dan Bani Umayyah yang bersih keras untuk mencari tahu terbunuhnya Usman bin Affan. Akhirnya terjadi peperangan antara kamu Muslim itu sendiri antara Muawiyah dengan Khalifah Ali bin abu Thalib beserta pengikutnya. Perang tersebut berakhir dengan perdamaian bersyarat. Tidak lama kemudian Khalifah Ali bin Abu Thalib wafat karena dibunuh oleh Abdurrahman Ibnu bin Muljam pada saat sholat subuh. Kepemimpinanpun diganti oleh Hasan anak dari Khalifah sendiri. Namun kepemimpinan tersebut tidak lama, karena selalu ditekan oleh Muawiyah. Akhirnya Hasan memberikan kepemimpinan tersebut ke Muawiyah. Muawiyahpun kembali ke kota Damaskus yang dijadikan tempat pemerintahan kerajaan Daulah Bani Umayyah.
      Masa kejayaan dinasti ini diawali pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan perluasan wilayah yang terhenti pada masa khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dilanjutkan kembali, dimulai dengan menaklukan Tunisia, kemudian ekspansi ke sebelah timur, dengan menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Sedangkan ekspansi ke timur ini kemudian terus dilanjutkan kembali pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan. Abdul Malik bin Marwan mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan berhasil menundukkan Balkanabad, Bukhara, Khwarezmia, Ferghana dan Samarkand. Ekspansi ke barat secara besar-besaran dilanjutkan pada zaman Al-Walid bin Abdul-Malik. Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di timur maupun barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Disamping ekspansi kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai bidang. Muawiyah bin Abu Sufyan mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang.
Masa kejayaan Dinasti Umayyah berakhir pada masa pemerintahan Hisyam ibn Abdul Malik (724-743). Dengan kematian Hisyam pada 743 M, rezim Umayyah memasuki fase kemuduran. Diantaranya yaitu rusaknya moral para khalifah dinasti Umayyah seperti gemar berfoya-foya dan sebagainya, kekacauan suksesi kepemimpinan, melemahnya kekuatan militer Suriah, perpecahan di masyarakat, kemunculan kelompok-kelompok pemberontak dan revolusi Abbasiyah.
Berdasarkan uraikan diatas dapat dikatakan bahwa perkembangan pendidikan Islam tidak lepas dari peranan ulama-ulama yang begitu giat mempelajari ilmu. Para ulama mendirikan madrasah-madrasah pada tiap-tiap kota. Kecintaan para ulama terhadap ilmu membuat mereka tergerak mempelajari ilmu tidak hanya pada satu ulama. Sehingga mereka melakukan pengembaraan ke berbagai tempat untuk menambah ilmu agama.
Ulama-ulama yang ada memiliki murid-murid, jadi ketika ulama tersebut wafat murid-muridnya, ulama tabi’in akan melanjutkan perjuangan untuk menuntut ilmu. Begitu seterusnya sampai kepada kita sekarang. Dengan adanya interaksi yang baik antara guru dan murid inilah yang menciptakan suatu keharmonisan dalam proses pembelajaran berbagai ilmu pengetahuan. Pencarian ilmu yang dilakukan oleh pencinta ilmu yang dilakukan dengan mengembara ke berbagai wilayah atau negara lain untuk belajar kepada ulama tertentu juga mengindikasikan adanya percampuran budaya setempat dengan Islam.
  1. Masa Khalifah Abbasiyah
      Menjelang tumbangnya Bani Umayah telah terjadi banyak kekacauan dalam berbagai bidang kehidupan bernegara, terjadi kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para Khalifah dan para pembesar negara lainnya sehingga terjadilah pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran Islam.
Di antara kesalahan-kesalahan dan kekeliruan-kekeliruan yang dibuat adalah :
  • Politik kepegawaian didasarkan pada klan, golongan, suku, kaum dan kawan.
  • Penindasan yang terus-menerus terhadap pengikut-pengikut Ali RA pada khususnya dan terhadap Bani Hasyim pada umumnya.
  • Penganggapan rendah terhadap kaum muslimin yang bukan bangsa Arab, sehingga mereka tidak diberi kesempatan dalam pemerintahan.
  • Pelanggaran terhadap ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara yang terang-terangan.
Demikianlah saat khalifah Umayyah mengalami keruntuhannnya, disaat itu pula khalifah Abbasiyah muncul dan berdiri, sampai pada masa kejayaan dan keemasannya dalam kancah peradaban dunia. Dinasti Abbasiyyah didirikan oleh Abdullah as Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdillah bin Abbas. Dinamakan khlaifah Abbasiyyah karena pnediri dan penguasa negeri ini adalah keturunan al Abbas paman Nabi SAW. Dalam kekuasaan dinastinya, pusat pemerintahan dipindahkan ke Kufah dan akhirnya ke Baghdad sampai runtuhnya daulah Abbasiyyah. Baghdad dijuluki sebagai “Mqadinah as Salam”. Dinasti Abbasiyyah memerintah lebih dari lima abad, yaitu dari tahun 132 H – 656 H. Pakar sejarah membagi dinasti Abbasiyyah dalam dua periode, yaitu: Periode Abbasiyyah I (132 H – 447 H), dan Periode Abbasiyyah II (447 H – 656 H).
Mereka berpendapat bahwa periode awal merupakan periode keemasan dalam ilmu, sastra, pemerintahan, dan politik. Periode ini dikenal dengan istilah Khalifah Abbasiyyah yang Agung. Sedangkan periode kedua merupakan periode kemunduran. Periode ini ditandai dengan melemahnya pemimpin, hilangnya wibawa khalifah, terpecahnya negeri-negeri, dan berkuasanya hawa nafsu.
Ada juga yang membagi dinasti ini berdasarkan golongan yang memerintah. Berdasarkan golongan yang memerintah, dinasti Abbasiyyah dibagi dalam lima periode, yaitu:
  1. Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama.
  2. Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama.
  3. Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khalifah Abbasiyyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
  4. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M), masa kekuasaan bani Saljuk dalam pemerintahan khalifah Abbasiyyah, biasa disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.
  5. Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad.
            Pembagian pertama ditekankan kepada masa kemajuan dan kemunduran dengan tidak menonjolkan dari kelompok mana yang berkuasa pada dinasti ini. Sedangkan pembagian kedua berdasarkan kelompok mana yang lebih dominan menguasai dinasti ini.
Dasar-dasar pemerintahan daulah Abbasiyyah diletakkan oleh Abu Abbas dan Abu Ja’far al-Mansur. Setelah sendi-sendi negara kuat, muncullah masa keemasan pada tujuh khalifah berikutnya, yaitu al-Mahdi (775 – 785 M), al-Mahdi (775 – 786 M), Harun ar-Rasyid (786 – 809 M), al-Makmun (813 – 833 M), al-Mu’tashim (833 – 842 M), al-Watsiq (842 – 847 M), dan al-Mutawakkil (847 – 861 M).
Pada periode Bani Abbasiyah yang menjadi masa keemasannya, yaitu pada periode pertama, pada masa kehalifahan Harun al-Rasyid. Sebab Kekhalifahan Bani Abbasiyah biasa dikaitkan dengan Khalifah Harun al-Rasyid. Harun al-Rasyid yang digambarkan sebagai Khalifah yang paling terkenal dalam zaman keemasan kekhalifahan Bani Abbasiyah. Dalam memerintah Khalifah digambarkan sangat bijaksana, yang selalu didampingi oleh penasihatnya, yaitu Abu Nawas, seorang penyair yang kocak, yang sebenarnya adalah seorang ahli hikmah atau filsuf etika. Zaman keemasan itu digambarkan dalam kisah 1001 malam sebagai negeri penuh keajaiban.
Sebenarnya zaman keemasan Bani Abbasiyah telah dimulai sejak pemerintahan pengganti Khalifah Abu Jakfar Al-Mansur yaitu pada masa Khalifah Al-Mahdi (775-785 M) dan mencapai puncaknya di masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid.
Di masa-masa itu para Khalifah mengembangkan berbagai jenis Kesenian, terutama kesusastraan pada khususnya dan kebudayaan pada umumnya. Berbagai buku bermutu diterjemahkan dari peradaban India maupun Yunani. Dari India misalnya, berhasil diterjemahkan buku-buku Kalilah dan Dimnah maupun berbagai cerita Fabel yang bersifat anonim. Berbagai dalil dan dasar matematika juga diperoleh dari terjemahan yang berasal dari India. Selain itu juga diterjemahkan buku-buku filsafat dari Yunani, terutama filsafat etika dan logika. Salah satu akibatnya adalah berkembangnya aliran pemikiran Muktazilah yang amat mengandalkan kemampuan rasio dan logika dalam dunia Islam. Sedangkan dari sastra Persia terjemahan dilakukan oleh Ibnu Mukaffa, yang meninggal pada tahun 750 M. Pada masa itu juga hidup budayawan dan sastrawan masyhur seperti Abu Tammam (meninggal 845 M), Al-Jahiz (meninggal 869 M), Abul Faraj (meninggal 967 M) dan beberapa sastrawan besar lainnya.
Kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya pada bidang sastra dan seni saja juga berkembang, meminjam istilah Ibnu Rusyd, Ilmu-ilmu Naqli dan Ilmu Aqli. Ilmu-ilmu Naqli seperti Tafsir, Teologi, Hadis, Fiqih, Ushul Fiqh dan lain-lain. Dan juga berkembang ilmu-ilmu Aqli seperti Astronomi, Matematika, Kimia, Bahasa, Sejarah, Ilmu Alam, Geografi, Kedokteran dan lain sebagainya. Perkembangan ini memunculkan tokoh-tokoh besar dalam sejarah ilmu pengetahuan, dalam ilmu bahasa muncul antara lain Ibnu Malik At-Thai seorang pengarang buku nahwu yang sangat terkenal Alfiyah Ibnu malik, dalam bidang sejarah muncul sejarawan besar Ibnu Khaldun serta tokoh-tokoh besar lainnya yang memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya.
Popularitas Daulah Abbasiyah juga mencapai puncaknya di zaman Khalifah al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial, rumah sakit, lembaga pendidikan dokter dan farmasi didirikan. Pada masa pemerintahannya sudah terdapat 800 dokter. Negara Islam di masa Harun menjadi negara super power yang tiada tandingannya. Pengganti Harun al-Rasyid adalah Makmun. Pada masanya Baghdad menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan dengan berdirinya “Bait al Himah”. Tingkat kemakmuran paling tinggi terwujud pada zaman Khalifah ini. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi.
Masa kemunduran dimulai sejak Abbasiyyah diperintah oleh khalifah Abu Ja’far Muhammad al-Muntashir (247-248/861-862) sampai jatuhnya Baghdad saat khalifah berada di tangan Abu Ahmad Abdullah al-Musta’shim 9640-656/1242-1258).
Beberapa faktor yang menyebabkan daulah Abbasiyyah mengalami kemunduran, diantaranya:
  1. Adanya friksi dalam tubuh daulah Abbasiyyah. Friksi ini hanya membuat daulat hanya sibuk mempertahankan wilayah yang sudah ada dan mengamankan perbatasan wilayah. Upaya untuk mempertahanakan wilayah yang sudah adapun tidak berhasil sepenuhnya, karena ada beberapa wilayah yang berhasil melepaskan diri dari pemerintahan pusat. Diantara dinasti-dinasti independen di masa itu ialah: Idrisiyyah di Maroko, Rustamiyah, Aghlabiyah, Zirriyyah, Hammadiyyah di Mesir, Syria, Qarmatiyah di Arabia Timur dan Tengah dengan Bahrain sebagai pusatnya, dan masih ada beberapa wilayah lain yang menyatakan independen dan memisahkan diri dari pusat pemerintahan di Baghdad. Dinasti Umayyah di Spanyol dan Fatimiyyah di Afrika Utara dan Mesir bahkan menjadi saingan pemerintahan Baghdad.
  2. Gaya hidup mewah dan foya-foya pada lingkungan pejabat dan keluarganya. Kehidupan mewah cenderung menjadikan orang cinta dunia dan lupa untuk mempersiapkan bekal akhirat.
  3. Khalifah yang berkuasa bukan sosok yang kuat, sehingga mereka mudah dipengaruhi para pegawainya.
  4. Banyaknya serangan-serangan yang dilakukan kaum salibis ke Palestina.
  5. Serangan Mongol ke jantung kota Baghdad mengakhiri riwayat daulah Abbasiyyah.
Kemunduran dan kehancuran Dinasti Abbasiyah yang menjadi awal kemunduran dunia Islam terjadi dengan proses kausalitas sebagaimana yang dialami oleh dinasti sebelumnya. Konflik internal, ketidak mampuan khalifah dalam mengkonsolidasi wilayah kekuasaannya, budaya hedonis yang melanda keluarga istana dan sebagainay, disamping itu juga terdapat ancaman dari luar seperti serbuan tentara salib ke wilayah-wilayah Islam dan serangan tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Dalam makalah ini penulis akan membahas sebab-sebab kemunduran dan kehancuran Dinasti Abbasiyah serta dinamikanya. Kemunduran dinasti Abbasiyah, secara umum disebabkan oleh dua faktor.
Secara internal karena tampilnya penguasa lemah yang sulit mengendalikan wilayah yang sangat luas ditambah sistem komunikasi yang masih sangat lemah dan belum maju menyebabkan lepasnya daerah satu per satu. Kecenderungan para penguasa untuk hidup mewah, mencolok dan berfoya-foya kemudian diikuti oleh para hartawan dan anak-anak pejabat ikut menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin. Dualisme pemerintahan, secara de jure dipegang oleh Abbasiyah, tetapi secara de facto digerakkan oleh oleh tentara profesional asal Turki yang semula diangkat oleh al-mu’tashim untuk mengambil kendali pemerintahan. Praktek korupsi oleh penguasa diiringi munculnya nepotisme yang tidak profesional di berbagai propinsi. Perang saudara antara al-Amin dan al-Ma’mun secara jelas membagi Abbasiyah dalam dua kubu, yaitu kubu Arab dan Persia, Pertentangan antara Arab-non Arab, perselisihan antara muslim dengan non-muslim, dan perpecahan di kalangan umat Islam sendiri.
Secara ekternal disebabkan oleh karena Abbasiyah menghadapi perlawanan yang sangat gencar dari dunia luar. Pertama, mereka mendapat serangan secara tidak langsung dari pasukan Salib di Barat. Kedua, serangan secara langsung dari orang Mongol yang berasal dari Timur ke wilayah kekuasaan Islam.
Dari uraian pada masa khalifah Abbasiyyah kami dapat mengenal berbagai macam ilmu-ilmu pengetahuan mengenai berbagai permasalahan di bumi ini, baik ilmu sosial, alam, politik, dll. Kami pun dapat mengetahui bagaimana cara mengatasinya serta mencegah permasalahan itu terjadi. Dan kita sebagai makhluk Allah SWT jangan mengeluh dan jangan pernah bosan untuk menuntut ilmu setinggi mungkin. Akrena sesungguhnya tidak akan sia-sia bagi siapapun yang menuntut ilmu sekalipun ke negeri China. Itu pun yang dikatakan dalam sebuah pepatah.
  1. Masa Khalifah Turki Utsmani
Dinasti Utsmani berasal dari suku bangsa pengembara Qatigh Oghuz (Kayi), salah satu anak suku Turk yang mendiami sebelah barat gurun Gobi, wilayah Asia Tengah. Pemimpin suku Kayi, Sulaiman Syah mengajak anggota sukunya untuk menghindari serbuan bangsa Mongol yang menyerang dunia Islam yang berada dibawah kekuasaan Dinasti Khawarizm pada tahun 1219-1229. Setelah serangan bangsa Mongol mereda, mereka berencana pindah ke Syam, namun mendapat kecelakaan hanyut di sungai Euphrat yang tiba-tiba pasang pada tahun 1228 M. Mereka akhirnya terbagi menjadi dua kelompok yang pertama ingin kembali ke daerah asalnya; dan yang kedua meneruskan perjalanan ke Asia Kecil. Mereka menghambakan diri kepada sultan Alauddi II dari Dinasti Saljuk Rum yang berpusat di Kuniya, Anatolia, Asia Kecil. Tatkala Dinasti Seljuk Rum berperang melawan Romawi Timur (Bizantium), Erthogol membantunya hingga mendapatkan kemenangan. Disinilah lahir Utsman yang diperkirakan tahun 1258. Nama Utsman itulah yang diambil sebagai nama untuk Dinasti Turki Utsmani. Erthogol meninggal tahun 1280 M. Utsman ditunjuk sebagai penggantinya sebagai pemimpin suku bangsa Turki atas persetujuan Sultan Seljuk. Setelah wilayah kekuasaan Saljuq Rum ditaklukan oleh bangsa Mongol, Utsman memerdekakan diri dan dapat bertahan dari serangan Mongol. Bekas wilayah Saljuq dijadikan basis kekuasaannya dan para penguasa Saljuq yang tersisa mengangkatnya sebagai pemimpin pada tahun 1300 M. Maka berdirilah kerajaan Utsmaniyyah yang dipimpin oleh Utsman dengan gelar Padisyah Alu Utsman atau lebih dikenal dengan Utsman I. Dinasti ini berkuasa kurang lebih selama 7 abad (625 tahun).
Dari 38 sultan yang pernah memerintah Turki Utsmani, Syafiq A. Mughni membaginya ke dalam lima periode:
  1. Periode pertama (1229-1402 M). Periode ini dimulai dari berdirinya kerajaan, ekspansi pertama sampai kehancuran sementara oleh serangan Timur Lank. Sultan-sultan yang memimpin pada periode ini adalah Utsman I, Orkhan, Murad I, dan Bayazid I.
  2. Periode kedua (1402-1556 M). Periode ini ditandai dengan restorasi kerajaan dan cepatnya pertumbuhan sampai pada ekspansinya yang terbesar khususnya pada masa Sultan Salim I putra sultan Bayazid II yang berhasil menguasai Afrika Utara, Syiria, dan Mesir yang pada waktu itu Mesir diperintah oleh kaum Mamluk yang dipimpin oleh al Mutawakkil ‘Ala Allah pada 1517 M. Sultan-sultan yang memimpin pada periode ini adalah Muhammad I, Murad II, Muhammad II, Bayazid II, Salim I dan Sulaiman I Al Qanuni. Pada periode ini Dinasti Turki Utsmani mencapai masa keemasannya pada masa pemerintahan Sulaiman I Al Qanuni. Wilayahnya meliputi Daratan Eropa hingga ustria, Mesir, Afrika Utara, Al Jazair, Asia hingga ke Persia; serta melingkupi Lautan Hindia, Laut Arabia, Laut Merah, Laut Tengah, dan Laut Hitam. Ia dijuluki Al Qanuni karena memberlakukan undang-undang dinegerinya. Orang Barat menyebutnya The Magnificient (Sulaiman yang agung), karena Al Qanuni-lah yang menyebut dirinya sultan dari segala sultan.
  3. Periode ketiga (1556-1699M). Periode ini ditandai dengan kemampuan dalam mempertahankan wilayahnya karena masalah perang yang terus menerus terjadi karena alasan domestik, disamping juga gempuran dari daerah luar. Sultan-Sultan yang memimpin pada periode ini adalah: Salim II, Murad III, Muhammad III, Ahmad I, Mustafa I, Utsman II, Mustafa I (yang keduakalinya), Muarad IV, Ibrahim I, Muhammad IV, Sulaiman III, Ahmad II, dan Mustafa II.
  4. Periode keempat (1699-1839 M). Periode ini ditandai dengan bersurutnya kekuatan kerajaan dan terpecahnya wilayah di tangan para penguasa wilayah. Sultan-sultannya adalah sebagai berikut: Ahmad III, Mahmud I, Utsman III, Mustafa III, Abdul Hamid I, Salim III, Mustafa IV, dan Mahmud II.
  5. Periode kelima (1839-1922 M). Periode ini ditandai oleh kebangkitan kultural dan administratif dari negara di bawah pengaruh ide-ide Barat. Sultannya adalah Abdul Majid I, Abdul Aziz, Murad V, Abdul Hamid II, Muhammad V, Muhammad VI, dan Abdul Majid II. Sultan sebagaimana yang tersebut terahir hanya bergelar khlaifah, tanpa sultan yang ahirnya diturunkan pula dari jabatan khalifah.
Dinasti ini meraih kejayaannya dalam perluasan wilayah. Paling tidak ada 5 faktor utama yang menyebabkan kesuksesan Dinasti Turki Utsmani khususnya dalam perluasan wilayah, yaitu: (1) Kemampuan orang Turki dalam strategi perang dan adanya cita-cita mendapatkan ghaniman; (2) Gaya hidup orang Turki yang sederrhana dan selalu berpikiran maju; (3) Semangat Jihad dan ingin mengembangkan Islam; (4) Letak Istambul yang sangat strategis diantara benua Eropa dan Asia di samping pernah sebagai pusat peradaban Dunia; (5) Kondisi kerajaan disekitarnya yang sudah rapuh, sehingga memudahkan Turki Utsmani untuk menaklukannya.
Selain itu, perkembangan peradapan yang dicapai pada masa Dinasti Turki Utsmani yang paling berpengaruh antara lain:
  1. Bidang militer, Dinasti Utsmani pada awal berdirinya telah membentuk kesatuan militer yang disebut Yenisseriserta dikembangkan sejumlah korp atau cabangnya. Seluruh pasukan militer dididik dan dilatih dalam sarana militer dengan semangat perjuangan Islam.
  2. Bidang pemerintahan, bentuk kerajaan Turki Utsmani mengikuti sistem feodal, dimana sultan adalah penguasa tertinggi baik dalam bidang agama, pemerintahan, politik bahkan masalah perekonomian. Orang kedua adalah wazir dan amir sebagai pengganti Sultan serta qadhi dan 
  3. Bidang Agama dan budaya, bahwa Turki Utsmani adalah perpaduan dari berbagai kebudayaan, yaitu Arab, Bizantium serta Persia. Dari Persia menerima ajaran etika dan tata krama, dari Bizantium tentang organisasi pemerintah dan prinsip-prinsip kemiliteran, serta dalam kebudayaan Arab tentang prinsip ekonomi, kemasyarakatan dan ilmu pengetahuan. Sedangkan dalam Aspek agama, para mufti mendapat kedudukan yang tinggi, tanpa legitimasi mufti, keputusan hukum kerajaan tidak dapat berjalan.
  4. Bidang intelektual, adaah dengan terbitnya 2 surat kabar, yaitu berita harian takvini Veka (1831) dan jurnalTasviri Efkyar (1862) dan Terjumani Ahval (1860).
  5. Bidang Sastra dan Bahasa, pada masa ini muncul sastrawan-sastrawan dengan hasil karyanya setelah menamatkan dari luar negeri. Karya-karya mereka dalam bentuk qasidah, ghazal, masnawi dan ruba’i. diantara tokohnya adalah Baki (1526-1600 M), dan Nef’i (1582-1636).
  6. Bidang Administrasi, terbentuknya tata laksana administasi pemerintahan yang adil dan rapi. Di samping itu, para sultan mengembangkan sektor ekonomi dengan mengalakkan perdagangan di antara mereka.
  7. Bidang arsitektur, selain berdirinya masjid-masjid yang indah, diantaranya Masjid Agung Muhammad al Fatih, Masjid abu Ayub al Anshari, serta masjid Aya Shopia yang merupakan bekas gereja.
  8. Dalam bidang pendidikan, berdirilah sekolah dasar dan menengah pada 1861, Perguruan Tinggi (1869) dengan guru yang didatangkan dari Iran dan Mesir. Dan juga mendirikan fakuktas kedokteran dan hukum. Di samping itu, pada masa ini juga terjadi penulisan sejarah. pada awalnya dalam bahasa Arab, kemudian diterjemah dalam bahasa Turki. Dalam Madrasah tingkat rendah mengajarkan Nahwu (tata bahasa Arab), Sharaf (sintaks), Mantiq (logika), teologi, astronomi, geometri dan retorika.
                        Kemunduran Turki Utsmani terjadi sejak pemerintahan Sultan Muhammad III (1594). Namun, sebagai negara yang besar dan kuat, kemunduran itu tidak langsung terlihat karena masih ada usaha para Sultan dalam menyelamatkan negara, tetapi keadaan ini sangat mengganggu pola kehidupan Daulah Utsmaniyah. Setelah itu pemerintahannya dilanjutkan oleh 19 orang Sultan Turki Utsmani sampai berdirinya Republik Turki. Namun, kekuasaan para sultan tersebut tidak sebesar dan sekuat sultan-sultan sebelumnya. Pada masa kemundurannya, sebagian sultan Turki Utsmani lebih suka bersenangsenang sehingga melupakan kepentingan perjuangan umat Islam. Akibatnya, Daulah Utsmaniyah dapat diserang oleh musuh dari Eropa, seperti Inggris, Prancis, dan Rusia. Abu al-Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi dalam bukunya, Madza Khasira al-‘Alam bi Inhithath al-Muslimin menggambarkan dengan sangat jelas kelemahan ekonomi, sains, agama, dan sosial serta moral, yang mengakibatkan kemunduran politik dan militer Daulah Utsmaniyah.
                        Sesungguhnya berjihad itu adalah satu perintah Allah yang Maha Tinggi, sedangkan mengabaikan Jihad itu adalah satu pengingkaran dan kedurhakaan yang besar terhadap Allah SWT, hal tersebut sudah terdapat dalam firman-Nya: pada Surah Al-Anfal ayat 39 yang berbunyi “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi, dan jadilah agama untuk Allah”. Dan sesungguhnya semua perbuatan manusia tentang kejahatan, kekufuran, kekafiran, kezaliman, dan merusak semua ciptaan Allah SWT, dll merupakan keinginan dari Dajjal. Maka dari itu, kita sebagai makhluk Allah SWT yang beriman harus dapat melawan permainan Dajjal, dan meningkatkan serta muhasabah diri untuk memerangi Dajjal.
Sejarah masuknya Islam ke Indonesia
  1. Tahun-tahun pertama masuknya Islam sebagai bantahan bahwa Islam datang melalui Gujarat
Mengenai waktu masuknya agama Islam ke Nusantara belum diketahui secara pasti. Namun ada beberapa pendapat tentang kapan masuknya agama Islam ke Nusantara berdasarkan temuan-temuan atau bukti-bukti sejarah. Beberapa sumber informasi tentang awal masuknya agama Islam ke Nusantara antara lain sebagai berikut :
  1. Abad ke -7 Masehi
Sumber sejarah yang menginformasikan Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 Masehi adalah sebagai berikut :
  1. Berita Cina Zaman Dinasti Tang yang menerangkan bahwa pada tahun 674 M, orang-orang Arab telah menetap di Kanton. Groeneveldt berpendapat bahwa pada waktu yang sama kelompok orang Arab yang beragama Islam mendirikan perkampungan di pantai barat Sumatera. Perkampungan tersebut namanyaBarus/Fansur.
  2. Pada waktu Sriwijaya mengembangkan kekuasaan sekitar abad ke- 7 dan 8, para pedagang Muslim telah ada yang singgah di kerajaan itu sehingga diduga beberapa orang di Sumatera telah memasuki Islam.
  3. Pada tahun 674 M, Raja Ta-Shih mengirim duta ke kerajaan Holing untuk membuktikan keadilan, kejujuran dan ketegaran Ratu Sima.
  4. Abad ke -13 Masehi
Sumber sejarah yang menyatakan Agama Islam mulai masuk ke Nusantara pada abad ke-13 M adalah sebagai berikut :
  1. Catatan perjalanan Marcopollo yang menerangkan bahwa ia pernah singgah di Perlak pada tahun 1292 M dan berjumpa dengan orang-orang yang telah menganut agama Islam.
  2. Ditemukannya nisan makam Raja Samudra Pasai Sultan Malik Al-Saleh yang  berangka tahun 1297 M.
  3. Berita Ibnu Batutah dari India. Dalam perjalanannya ke Cina, Ibnu Batutah singgah di Samudra Pasai pada tahun 1345 M. Ia menceritakan bahwa Raja Samudra Pasai giat menyebarkan Agama Islam.  
  4. Abad ke-15 Masehi
Sumber sejarah yang menyatakan Agama Islam mulai masuk ke Nusantara pada abad ke-15 M adalah sebagai berikut :
  1. Catatan Ma-Huan seorang Musafir Cina Islam, memberitakan bahwa pada abad  ke-15 M sebagian besar masyarakat Pantai Utara Jawa Timur telah memeluk Islam.
  2. Pemakaman muslim kuno di Troloyo dan Trowulan. Makam yang berangka tahun 1457 M membuktikan adanya bangsawan Majapahit yang sudah memeluk Agama Islam pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.
  3. Makam salah seorang Wali Songo di daerah Gresik. Pada batu nisannya tertulis nama Malik Ibrahim (Bangsa Persia) yang wafat pada tahun 1419 M.
  4. Suma Oriental dari Tome Pires, catatan musafir Portugal ini memberitakan mengenai penyebaran agama Islam. antara tahun 1512 M sampai tahun 1515 M di Sumatera, Kalimantan, Jawa sampai sampai Kepulauan Maluku.
  1. Sejarah Wali Songo
      Sampai dengan abad ke 8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi nusantara secara besar-besaran baru pada abad ke 9 H penduduk pribumi memeluk islam secara masal. Pesatnya islamisasi disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan hindu atau budha di nusantara seperti majapahit, sriwijaya, dan sunda. Islam datang ke asia tenggara dengan jalan damai tidak dengan pedang tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil alamin. Sementara itu, dalam sejarah penyebaran agama islam terutama di pulau jawa banyak ditemukan literatur bahwa pada masa awal, da’I sebagai penyebar islam banyak dipegang peranannya oleh para wali Sembilan / atau dikenal dengan wali songo. Metode yang dikembangkan para wali dalam gerakan dakwahnya lebih banyak melalui media kesenian budaya setempat disamping melalui jalur sosial-ekonomi atau lebih tepatnya pengislaman kultur sebagai contoh yaitu dengan media kesenian wayang dan tembang-tembang jawa yang di modifikasi dan disesuaikan oleh para wali dengan konteks dakwah. Dan sebagai gambaran spesifiknya dakwah yang dikembangkan oleh masing-masing para wali Sembilan tersebut yaitu:
1. Maulana Malik Ibrahim
Pola dakwah islam yang berhasil beliau kembangkan adalah sebagai berikut
  1. Bergaul dengan para remaja karena dengan begitu dapat mengerti karakter dari mad’u sehingga dapat menetukan metode yang tepat dalam menyampaikan ajaran islamnya.
  2. Membuka pendidikan pesantren dan dari sinilah kemudian muncul para kader kader da’I yang professional yang pada gilirannya berperan sebagai guru dalam masyarakatnya serta memiliki kemampuan yang tinggi dalam memperjuangkan dakwah islam selanjutnya.
    2. Sunan Ampel
Gelar sunan ampel adalah Raden Rahmat. Beberapa pola dakwah yang beliau kembangkan adalah :
  1. Menyerukan dan melanjutkan perjuangan yang telah dilakukan Maulana Malik Ibrahim yaitu dengan mengadakan pendidikan bagi masyarakat.
  2. Meyiapkan dan melatih genarasi-generasi islam yang dapat diandalkan yang kemudian di persiapkan sebagai kader da’I inti.
  3. Membangun hubungan silahturahmi dan persaudaraan dengan putra pribumi dengan menikahkan putrid daerah setempat.
  4. Mempelopori pendirian masjid agung demak.
  5. Melebarkan wilayah dakwahnya dengan mengutus para kepercayaannya untuk berdakwah ke wilayah lain.
    3. Sunan Giri
Sunan Giri adalah seorang da’I sekaligus ulama ulung yang dibekali pengetahuan agama yang memadai. Nama lain dari sunan giri adalah Joko Samudro, Raden Paku, Prabu Satmata. Selain itu beliau juga memiliki gelar Sultan Abdul Faqih karena sangat yakin dan mendalam ilmu fiqihnya. Pola dakwah yang beliau kembangkan adalah :
  1. Membina kader da’I inti yaitu mereka yang dididik diperguruan Giri.
  2. Mengembangkan islam keluar jawa misalnya pulau Madura, Bawean, Kangean, bahkan sampai ke Ternate dan Huraku Kepulauan Maluku.
  3. Menyelenggarakan pendidikan bagi masyarakat secara luas yaitu dengan mewujudkan gamelan sekatan,kesenian wayang kulit yang sarat berisikan ajaran islam merintis permainan-permainan arab serta mengarang lagu-lagu jawa yang berisikan ajaran islam.
  4. Sunan Kudus
Sunan kudus terkenal sebagai ulama besar yang menguasai ilmu hadits, ilmu tafsir Al-quran, sastra, mantik, dan ilmu fiqih. Pola dakwah yang dikembangkannya banyak tercorak pada bidang kesenian. Salah satu karya ciptanya yang terkenal adalah gending maskumambang dan mijil. Seperti pada peringatan maulid nabi, banyak warga yang berduyun duyun menyaksikannya. Hal ini dimanfaatkan sunan kudus untuk siar dakwah islam.
  1. Sunan Bonang
Beliau adalah putra sunan Ampel Nyai Ageng Manila. Dimasa hidupnya beliau adalah termasuk penyokong dari kerajaan demak dan ikut membantu pendirian mesjid agung demak. Program dakwah yang dikembangkannya adalah:
  1. Pemberdayaan dan peningkatan jumlah dan mutu kader da’I dengan mendirikan pendidikan dan dakwah islam.
  2. Pengaruh islam kedalam kalangan bangsawan keraton majapahit
  3. Terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat dalam berinteraksi. Beliau menciptakan gending-gending atau tembang jawa yang sarat dengan misi pendidikan dan dakwah islam.
  4. Melakukan kodivikasi atau pembukuan dakwah. Kitab inilah yang dikenal suluk sunan boning.
    6. Sunan Drajat
Nama asli dari sunan drajat adalah syarifuddin hasyim, merupakan putra dari sunan ampel. Adapun pola dakwah yang telah dikembangkannya adalah :
  1. Mendirikan pusat-pusat atau pos bantuan yang diatur sedemikian rupa agar memudahkan dalam pengaturan dan penyaluran bagi masyarakat yang membutuhkannya.
  2. Membuat kampung-kampung percontohan dengan tujuan agar menjadi pusat rujukan masyarakat dalam kehidupan sehari hari.
  3. Menanamkan ajaran kolektivisme yaitu ajaran bergotong royong.
  4. Dibidang kesenian beliau menciptakan tembang-tembang jawa yaitu pangkur.
    7. Sunan Gunung Jati
Nama lengkap Sunan Gunung Jati adalah Syarif Hidyatullah, Putra dari Syarif Abdullah. Sunan Gunung Jati atau Fatahillah selain seorang da’I juga dikenal sebagai pahlawan bangsa yang gigih melawan penjajahan. Beliau berhasil mematahkan kekuasaan portugis tanggal 22 Juni 1527 yang kemudian menggantikan sunda kelapa dengan jayakarta (kemenangan yang paripurna). Strategi metode pengembangan dakwah yang dilakukannya lebih terfokus pada pembagian tugas diantaranya adalah dengan melakukan:
  1. Melakukan pembinaan intern kesultanan dan rakyat yang masuk dalam wilayah demak di tangan wali senior.
  2. Melakukan pembinaan terhadap luar daerah dengan menyerahkan tanggungjwabnya kepada para pemuda.
    8. Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga memiliki nama lain Muhammad Said atau Joko Said, putra dari Raden Tumenggung Wilotileto. Sunan kalijaga merupakan wali yang sangat dekat dengan masyarakat muslim tanah jawa melebihi yang lainnya. Pola dakwah yang telah dikembangkannya adalah :
  1. Mendirikan pusat pendidikan di kadilango
  2. Berdakwah lewat kesenian diantaranya tradisi selamatan peninggalan agama hindu dan budha didekati dengan acara tahlil.
  3. Memasukkan hikayat-hikayat islam kedalam permainan wayang.
    9. Sunan Muria
Nama lain dari sunan muria adalah Raden Prawoto, Raden Umar Syahid. Beliau adalah putra sunan kalijaga. Adapun pola dakwah yang dikembangkannya adalah:
  1. Menjadikan daerah-daerah plosok pegunungan sebagai pusat kegiatan dakwah
  2. Berdakwah melalui jalur kesenian dengan menciptakan gending sinom, kinanti dan sebagainya.
  3. Sejarah masuknya Islam ke Balikpapan
Masjid Al-Ula, Tertua Kota Balikpapan
                Masjid bersejarah yang pertama berdiri di kawasan pemukiman mayoritas warga beretnis Bugis – Makassar ini disematkan pada Masjid Jami’ Al – Ula yang berlokasi di Jalan Jenderal Suprapto RT 15 No 1 Kelurahan Baru Ulu Balikpapan Barat bisa diibaratkan menjadi tonggak sejarah penyebaran agama Islam di Balikpapan. Masjid Al – Ula kemudian menjadi pelopor berdirinya bangunan masjid masjid lain di kota yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Berdasarkan sejarahnya masjid ini berdiri pada masa penjajahan pemerintah colonial Belanda sejak 350 tahun silam. Awalnya masjid ini adalah sebuah tempat ibadah syuro atau mushola yang bentuk fisik bangunannya hanya berupa dinding dan lantai papan kayu dengan beratapkan sirap.
            Dulunya, kawasan Kampung Baru adalah lokasi singgah para saudagar Islam asal Sulawesi Selatan, Banjarmasin, Penajam dan Jenebora. Mereka berdagang berbagai keperluan masyarakat kala itu disamping syiar agama Islam di bumi borneo. Untuk lokasi beribadah, kemudian dipilihlah suatu tempat di pinggir pantai untuk pendirian syuro yang kini lebih dikenal dengan nama Masjid Al – Ula. Patut dimaklumi, Kampung Baru saat itu adalah pusat perdagangan di Kalimantan. Bahkan, Kampung Baru sendiri adalah kota tertua yang menjadi cikal bakal perkembangan Balikpapan hingga sekarang ini. Namun nama nama pendiri awal dari Masjid Jami’ Al-Ula ini tidak tercatat.
            Masjid Al – Ula telah beberapa kali mengalami renovasi dari dulunya hanya bangunan syuro kontruksi kayu menjadi semegah seperti saat ini. Deretan nama nama tokoh Bugis saat itu bermunculan sebagai penggagas renovasi masjid seperti H Ambo Laupe (kepala kampung),H Mandarwasa, H Sakka hingga penggawa Lotong. Kepala kampung saat ini mewakafkan tanahnya untuk tempat berdirinya syuro Al – Ula hingga secara lisan diberikan melalui imam masjid, KH Jamaluddin Daeng Malewa. Atas dasar hak wakaf sudah diberikan, keduanya merenovasi bangunan syuro serta menetapkan nama Masjid Al – Ula untuk penghormatannya. Penetapan nama Masjid Jami’ Al-Ula terjadi saat renovasi pertama dilakukan.
            Tahap renovasi pertama, Masjid A l -Ula memiliki empat pilar penyangga kubah berupa kayu ulin berdiameter ukuran 30 centimeter setinggi 8 meter. Pilar penyangga ini berdiri hanya dengan mempergunakan tenaga manusia secara bergotong royong. Selain itu di depan bangunan masjid terdapat kolam kecil tempat berwudhu (sendang) sebelum melaksanakan sholat wajib maupun sunah. Salah seorang imam syuro ini dulu sempat disemayamkan di samping mi’rab bangunan, sebelum ahli waris memindahkannya ke pekuburan Penajam Paser Utara. Renovasi kedua dilakukan pada tahun 1962 dengan konstruksi semi permanen. Panitia pembangunan masjid saat itu adalah Panglima Kodam IX Mulawarman R. Soeharyo sebagai Ketua Kehormatan, H. Djafar sebagai Ketua, Said Muhammad sebagai Sekretaris, H.M. Yunus sebagai Bendahara dan H. Bausad dan Asnawie Arbain sebagai Pengawas Keuangan. Namun ada hal yang mengejutkan saat renovasi kedua Masjid Al – Ula dilakukan yang kala itu terkesan ditunggangi kepentingan politis. Ada ancaman pembunuhan terhadap panitia pembangunan masjid yang datangnya malah dari Ketua kehormatan, Panglima Kodam. Oknum TNI ini diduga telah tersusupi paham komunisme sehingga memaksa agar pembangunan masjid selesai dalam jangka waktu beberapa bulan. Dengan segala upaya akhirnya panitia masjid berhasil menyelesaikan bangunan masjid dalam kurun waktu empat bulan. Walau pembangunannya pada saat itu masih belum sempurna, masjid sudah bisa difungsikan untuk sholat ibadah lima waktu dan sholat Jum’at setiap pekannya. Kemudian renovasi ketiga terjadi pada tahun1970-an, dengan perbaikan atap, kubah dan menara masjid serta rumah wakaf untuk imam Masjid Al – Ula. Renovasi keempat pada tahun 1988 yang menjadi perombakan total luas, model bangunan masjid yang kemudian dilengkapi pendidikan Madrasah Al – Ula yang diprakarsai Imam H.M. Munir dan diketuai H.M. Syafri Tuwo.
            Pada masa itu bertepatan dengan pergantian pengurus dan panitia masjid, sehingga pembangunan dilanjutkan oleh pengurus baru, H. Sanusi Masse sebagai ketua dan H.M.Yusup sebagai Ketua Pembangunan. Penyelesaian akhir pembangunan pada tahun 2004. Berjalannya waktu dalam perkembangan masjid, melahirkan sebuah keinginan dari pengurus Masjid Jami’ Al-Ula untuk mendirikan sebuah sekolah yang diberi nama Madrasah Ibtidaiyah dengan dikepalai Daud Ponte. Cikal bakal Madrasah Ibtidaiyah Al-Ula berawal dari Sekolah Arab pada tahun 1970-an yang dikepalai oleh Abdullah Umar kemudian dilanjutkan Guru Sofyan. Kemudian untuk menuju perkembangan yang lebih baik maka pengurus Masjid Al – Ula mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Al – Ula yang diketuai KH. Muhammad Munir dan selaku Kepala Madrasah Ibtidaiyah Al-Ula, H. Amiruddin K.Ama. Sudah sepantasnya Masjid Al – Ula menjadi patron sejarah Islam di Kota Balikpapan maupun Kalimantan Timur. Sejak awal berdirinya, masjid ini menyimpan banyak keistimewaan dan keajaiban yang hingga kini terkadang di luar akal serta nalar manusia.
            Balikpapan menjadi salah satu kota yang menjadi incaran pengeboman pesawat pesawat sekutu pada masa perang dunia kedua 1941 – 1945. Pasukan pimpinan Negara Inggris ini mengincar basis pertahanan Jepang yang membangun pos pertahanan di kawasan Kampung Baru saat itu.Salah satu pesawat sekutu menjatuhkan bom aktif yang tepat mengenai pinggiran samping bangunan Masjid Al – Ula. Namun berkat kebesaran Allah SWT bom tersebut tidak meledak. Demikian pula saat kebakaran besar Kampung Baru pada tahun 1948 tidak mampu menjangkau bangunan masjid yang berdempetan dengan bangunan masyarakat.
            Puncaknya kala pemberontakan PKI era 65 yang merembet hingga Balikpapan hingga simpatisan faham komunis menyerang setiap masjid yang masih berdiri. Masjid Al – Ula menjadi sasaran pembakaran hingga si jago merah melalap seluruh bangunan masjid. Namun ajaibnya, bangunan dan barang barang masjid tidak hangus terbakar. Hanya barang barang ungsian milik masyarakat sekitar yang terbakar habis jadi abu. Bencana kebakaran tahun 1984 juga tetap tidak mampu meruntuhkan keagungan masjid tertua di Balikpapan ini.
  1. Pelajaran yang bisa dipetik dari strategi dakwah para ulama terdahulu
Wali Songo bukan sahaja berjaya dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa tetapi turut memberi sumbangan dalam pelbagai bidang kehidupan. Mereka telah berjaya memperkenalkan Islam sebagai suatu cara hidup yang menyeluruh. Mereka menggunakan segala bakat dan kepandaian yang ada pada mereka untuk menyampaikan ajaran Islam. Sumbangan dan peranan mereka itu sebenarnya mempunyai kaitan dengan kepelbagaian strategi dan pendekatan dakwah berkesan yang mereka gunakan, sudah tentu pendekatan itu digali daripada sumber Al-Qur’an dan Hadis Nabi (SAW). Pendekatan sufi yang dinamik, penuh hikmah adalah satu langkah yang bijak dalam usaha mendekatkan masyarakat Jawa kepada Islam. Diantara rahasia kejayaan mereka ialah penghayatan kesufian/kerohanian dalam membina kekuatan perjuangan.
  1. Kritik terhadap jalan dakwah zaman sekarang bila dibandingkan dengan dakwah para ulama zaman terdahulu
Pola dakwah yang dikembangkan oleh para da’i pada masa ini adalah
  1. terjadinya pergeseran gerakan dakwah dari tataran pemikiran ke arah yang lebih luas, yaitu dalam setiap kehidupan sosial kemasyarakatan
  2. dinamika kegiatan dakwah telah banyak berbentuk organisasi modern dan lembaga-lembaga Islam yang sebagian didukung oleh pemerintah
  3. para da’i lebih berkonsentrasi bagaimana mengarahkan umat untuk menjadi umat yang siap dalam menghadapi perubahan terutama arus modernisasi
  4. pola dakwah yang dikembangkan banyak berporos di kota di mana ditandai dengan bermunculannya lembaga-lembaga dakwah yang bercorak untuk kalangan professional dan intelektual. Dakwah lebih bersifat rasional dan sistematis dengan banyak melakukan pendekatan secara realistis. Hal ini dilatarbelakangi dengan kondisi masyarakat kota yang pada saat itu mengalami spliy personality.
  5. Ketika gerakan dakwah lewat politik gagal, maka usaha dakwah dialihkan ke aksi yakni dakwah yang berorientasi pada penanganan masalah sosial seperti pengembangan dan pemberdayaan yang dikenal dengan dakwah bil hal atau dakwah cultural. Dan dakwah inilah yang dianggap telah mampu menjembatani umat Islam perkotaan dan Islam tradisional.
  6. Dakwah Islam berkembang ke lini yang lebih luas, akan tetapi gerakannya terus dibayangi oleh penguasa birokrasi, sehingga kebebasannya terbatas pada sudut konvensional dakwah.
DAFTAR PUSTAKA
Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh (2014). “Buku Pintar Sejarah Islam: Jejak Langkah Peradaban Islam dari Masa Nabi hingga Masa Kini.” Penerbit: Zaman, Jakarta.
Diakses dari https://vhocket.wordpress.com/2013/03/31/khalifah-abu-bakar-r-a/ tanggal 19 Mei 2018
Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan_Umayyah tanggal 19 Mei 2018
Diakses dari https://islamwiki.blogspot.com/2011/04/makalah-sejarah-turki-usmani.html tanggal 19 Mei 2018
Diakses dari https://makinmaju.wordpress.com/2009/01/15/dinasti-turki-utsmani/ tanggal 19 Mei 2018
Diakses dari https://alkautsarkalebbi.wordpress.com/2013/12/09/masa-keemasan-islam-bani-abbasiyah/ tanggal 19 Mei 2018
Diakses dari https://youchenkymayeli.blogspot.co.id/2012/06/kemunduran-dan-kehancuran-dinasti.html tanggal 19 Mei 2018
Wahyu Ilaihi dan Harjani Hefni (2007). “Pengantar Sejarah Dakwah.” Penerbit: Kencana, Jakarta.
Diakses dari http://newsbalikpapan.com/masjid-al-ula-tertua-kota-balikpapan.html tanggal 21 Mei 2018
Diakses dari http://www.academia.edu/1801696/Hikmah_Berdakwah_Suatu_Penelitian_Terhadap_Pendekatan_Dakwah_Wali_Songo tanggal 21 Mei 2018
Diakses dari http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/15/09/08/nucvj0313-ini-bedanya-dakwah-rasulullah-dan-zaman-sekarang tanggal 21 Mei 2018
Diakses dari http://wawasansejarah.com/perkembangan-pendidikan-islam-masa-umayyah/ tanggal 23 Mei 2018
“Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Never Leave History!)” –(Bung Karno)
Baiklah cukup sekian pembahasan mengenai Sejarah Khalifah dari zaman Khalifah Abu Bakar – Ustmaniyah (Turki) dan Sejarah masuknya Islam ke Indonesia, atas kesalahan kata atau apapun itu Fidha mohon maaf. Jangan bosan untuk selalu mengunjungi blog pribadi Fidha ini, dan jangan lupa ajak teman-teman kalian untuk datang berkunjung dan membaca hehehee.. Sekian dari Fidha. Terima kasih ((:
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s